Aku tidak pernah menyangka akan terlahir ke dunia dari keluarga orang Dayak. Ayahku seorang Ngaju dan ibuku Ma'anyan. Seandainya boleh, aku pasti tidak memilih demikian. Sebagai seorang anak yang lahir dalam generasi yang sudah mengenal modernisasi - seperti anak2 yg lainnya - , jika boleh aku ingin sekali dilahirkan dari keluarga orang Bule. Mungkin bagi sebagian orang lucu.. tapi itulah pikiran yg pernah terlintas pada masa kecilku.
Kau tahu mengapa...?? Sejak kecil aku sudah mengenal dunia luar.. dan aku pikir dunia luar itu jauh lebih hebat ketimbang dunia ku sendiri. Walaupun aku tinggal di sebuah desa kalteng, aku mampu memandang keluar.
Alhasil, semasa kecil aku tidak pernah mengenal asal-usul ku. Warisan nenek moyangku kurang aku perhatikan. Aku merasa bosan dengan segala acara tradisional yang dilakukan oleh kakek nenekku. Bahkan aku sempat berpikir bahwa ritual mereka itu salah satu bentuk penyembahan berhala. Apalagi belajar bahasa. Aku pikir, mengapa belajar bahasa dayak, toh teman2ku tidak memakainya lagi di kampungku.
Itulah aku.....
Sekarang aku telah menjadi dewasa dan pergi merantau ke negeri orang. Ternyata baru sekarang aku menyadari betapa aku kehilangan identitas di negeri orang.
Apakah mungkin aku menyebut diriku orang Bule padahal tidak ada sama sekali ciri2 fisiknya...??
Atau orang Cina? atau orang selain orang Dayak..???
Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri.
Jika kamu percaya pada Tuhan pasti kamu sepakat denganku bahwa kelahiran kita bukan kebetulan.
Aku agak menyesal karena sekarang, malah di negeri orang aku belajar menggali warisan nenek moyangku. Aku juga sempat berpikir menyalahkan keluargaku, mengapa mereka tidak pernah mengajarkan aku budaya yang seharusnya aku warisi. Namun semua sudah terjadi.
Setelah aku mempelajari dan menyelami budayaku sendiri, budaya Dayak, baru aku mengerti bahwa Dayak itu tidaklah seperti yang "mereka" katakan. Sekarang setelah aku menjadi dewasa, aku memberi rasa hormat dan kagum atas segala pencapaian yang dilakukan oleh nenek moyangku. Betapa kaya dan indahnya harta yang mereka wariskan kepada kita. Pandangan hidup, Kesenian, Pendidikan, Kekayaan Budaya.. sungguh sangat agung.
Setelah semua ini, tidak bisa aku merasa malu lagi sebagai orang Dayak atau malah bersikap tidak peduli.
Ini adalah tugas bagiku untuk melanjutkan warisan yang sudah dipercayakan oleh nenek moyangku.
Dunia luar perlu diperkaya oleh khasanah warisan budaya Dayak dan aku harap aku pun sebagai anak Dayak dapat menyumbangkan setetes madu bagi dunia.
Kau tahu mengapa...?? Sejak kecil aku sudah mengenal dunia luar.. dan aku pikir dunia luar itu jauh lebih hebat ketimbang dunia ku sendiri. Walaupun aku tinggal di sebuah desa kalteng, aku mampu memandang keluar.
Alhasil, semasa kecil aku tidak pernah mengenal asal-usul ku. Warisan nenek moyangku kurang aku perhatikan. Aku merasa bosan dengan segala acara tradisional yang dilakukan oleh kakek nenekku. Bahkan aku sempat berpikir bahwa ritual mereka itu salah satu bentuk penyembahan berhala. Apalagi belajar bahasa. Aku pikir, mengapa belajar bahasa dayak, toh teman2ku tidak memakainya lagi di kampungku.
Itulah aku.....
Sekarang aku telah menjadi dewasa dan pergi merantau ke negeri orang. Ternyata baru sekarang aku menyadari betapa aku kehilangan identitas di negeri orang.
Apakah mungkin aku menyebut diriku orang Bule padahal tidak ada sama sekali ciri2 fisiknya...??
Atau orang Cina? atau orang selain orang Dayak..???
Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri.
Jika kamu percaya pada Tuhan pasti kamu sepakat denganku bahwa kelahiran kita bukan kebetulan.
Aku agak menyesal karena sekarang, malah di negeri orang aku belajar menggali warisan nenek moyangku. Aku juga sempat berpikir menyalahkan keluargaku, mengapa mereka tidak pernah mengajarkan aku budaya yang seharusnya aku warisi. Namun semua sudah terjadi.
Setelah aku mempelajari dan menyelami budayaku sendiri, budaya Dayak, baru aku mengerti bahwa Dayak itu tidaklah seperti yang "mereka" katakan. Sekarang setelah aku menjadi dewasa, aku memberi rasa hormat dan kagum atas segala pencapaian yang dilakukan oleh nenek moyangku. Betapa kaya dan indahnya harta yang mereka wariskan kepada kita. Pandangan hidup, Kesenian, Pendidikan, Kekayaan Budaya.. sungguh sangat agung.
Setelah semua ini, tidak bisa aku merasa malu lagi sebagai orang Dayak atau malah bersikap tidak peduli.
Ini adalah tugas bagiku untuk melanjutkan warisan yang sudah dipercayakan oleh nenek moyangku.
Dunia luar perlu diperkaya oleh khasanah warisan budaya Dayak dan aku harap aku pun sebagai anak Dayak dapat menyumbangkan setetes madu bagi dunia.
No comments:
Post a Comment