Sunday, January 25, 2009

Pulau Kalimantan tempat tinggalku

Pulau Kalimantan..

Betapa tidak asing nama itu terdengar bagiku.

Pulau Kalimantan bukanlah pulau yang sangat istimewa jika
dibandingkan dengan beribu-ribu pulau yang mengelilinginya.
Tidak pula berbeda dengan kebanyakan pulau di daerah khatulistiwa, kecuali ukurannya yg besar dan banyaknya sungai yang meliuk-liuk bagaikan ular. Hanya itu.

Kau tahu, belum terlalu lama aku mengenal pulau ini. Akupun baru mengetahui bahwa nama "Kalimantan" berarti Sungai Besar. Entah siapa yang pertama kali menyebutnya demikian. Oh iya aku juga ingat bahwa dulu ada bangsa asing yang sempat berlayar ke pulau ini. Mereka memberikan pulau ini sebuah nama yaitu Borneo. Adakah kaitannya dengan kerajaan Brunei di Utara Kalimantan? Akupun kurang mengetahuinya secara persis.

Kalimantan...., apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata itu?

Slamet, salah seorang kenalanku di pantai selatan menjawab, "Oh.. Kalimantan itu sangat angker. Penuh hal-hal mistik disana ya".

Adapula Galuh dari pangandaran membalas, "disana banyak gadis-gadis yang cantik heheheee."

kamipun terkekeh mendengar jawaban Galuh.

Tan Kian, temanku dari kepulauan Riau pun ikut-ikutan bersuara, "Jangan salah, disana orangnya kaya-kaya."

George yang pendiam, malu-malu walau terbata-bata tidak bisa menahan hasratnya untuk ikut memberikan penilaian meski bahasa Indonesia nya pas-pasan, "I think Borneo or Kalimantan is a beautiful place of nature but people there masih.. masih... be..lum mengenal a modern life, i..i..ya khan..???"

Kamipun terdiam mendengar jawaban George. Entah diam karena kurang mengerti apa yang dikatakannya atau terdiam karena kata-katanya.

Jelas bagiku... aku terdiam karena mendengar kata-katanya. Sebentar aku pun merenung.

Apakah yang terjadi disana....??? Mengapa teman-temanku bisa memberi komentar-komentar demikian tentang Pulau Kalimantan? Menurutku tidak ada yang keliru dengan pendapat mereka. Itulah pendapat yang sudah mereka dengar dari dulu.

Sementara itu, apakah yang akan aku katakan tentang Pulau Kalimantan seandainya pertanyaan itu di lontarkan padaku?

Maka, akupun akan menjawab sederhana, "Pulau Kalimantan, disanalah tempat tinggalku."

Sementara semua pertanyaan dan perhatian mulai tertuju kepadaku, maka itulah saatnya aku berdiri dan menceritakan kepada Dunia tentang pulau Kalimantan dan segala sesuatu yang terkandung didalamnya. Itulah tugasku sebagai Putra dan Putri Kalimantan.

Arti Menjadi Orang Dayak

Aku tidak pernah menyangka akan terlahir ke dunia dari keluarga orang Dayak. Ayahku seorang Ngaju dan ibuku Ma'anyan. Seandainya boleh, aku pasti tidak memilih demikian. Sebagai seorang anak yang lahir dalam generasi yang sudah mengenal modernisasi - seperti anak2 yg lainnya - , jika boleh aku ingin sekali dilahirkan dari keluarga orang Bule. Mungkin bagi sebagian orang lucu.. tapi itulah pikiran yg pernah terlintas pada masa kecilku.

Kau tahu mengapa...?? Sejak kecil aku sudah mengenal dunia luar.. dan aku pikir dunia luar itu jauh lebih hebat ketimbang dunia ku sendiri. Walaupun aku tinggal di sebuah desa kalteng, aku mampu memandang keluar.

Alhasil, semasa kecil aku tidak pernah mengenal asal-usul ku. Warisan nenek moyangku kurang aku perhatikan. Aku merasa bosan dengan segala acara tradisional yang dilakukan oleh kakek nenekku. Bahkan aku sempat berpikir bahwa ritual mereka itu salah satu bentuk penyembahan berhala. Apalagi belajar bahasa. Aku pikir, mengapa belajar bahasa dayak, toh teman2ku tidak memakainya lagi di kampungku.

Itulah aku.....

Sekarang aku telah menjadi dewasa dan pergi merantau ke negeri orang. Ternyata baru sekarang aku menyadari betapa aku kehilangan identitas di negeri orang.
Apakah mungkin aku menyebut diriku orang Bule padahal tidak ada sama sekali ciri2 fisiknya...??
Atau orang Cina? atau orang selain orang Dayak..???
Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri.

Jika kamu percaya pada Tuhan pasti kamu sepakat denganku bahwa kelahiran kita bukan kebetulan.

Aku agak menyesal karena sekarang, malah di negeri orang aku belajar menggali warisan nenek moyangku. Aku juga sempat berpikir menyalahkan keluargaku, mengapa mereka tidak pernah mengajarkan aku budaya yang seharusnya aku warisi. Namun semua sudah terjadi.

Setelah aku mempelajari dan menyelami budayaku sendiri, budaya Dayak, baru aku mengerti bahwa Dayak itu tidaklah seperti yang "mereka" katakan. Sekarang setelah aku menjadi dewasa, aku memberi rasa hormat dan kagum atas segala pencapaian yang dilakukan oleh nenek moyangku. Betapa kaya dan indahnya harta yang mereka wariskan kepada kita. Pandangan hidup, Kesenian, Pendidikan, Kekayaan Budaya.. sungguh sangat agung.

Setelah semua ini, tidak bisa aku merasa malu lagi sebagai orang Dayak atau malah bersikap tidak peduli.
Ini adalah tugas bagiku untuk melanjutkan warisan yang sudah dipercayakan oleh nenek moyangku.

Dunia luar perlu diperkaya oleh khasanah warisan budaya Dayak dan aku harap aku pun sebagai anak Dayak dapat menyumbangkan setetes madu bagi dunia.